Mengenal Vaksin Sinovac Sebagai Vaksin Pembasmi Covid

6

Badan Pengawas Obat dan Makanan (Badan POM) telah memberikan izin penggunaan darurat atau use of emergency authorization bagi vaksin Covid-19 dari Sinovac pada Senin (11/1). 

Izin diberikan setelah hasil kajian dari BPOM terhadap vaksin Sinovac menunjukan efiksasi vaksin ini mencapai 65,3 persen. Selain itu, vaksin Sinovac juga efektif dalam membentuk antibodi di dalam tubuh penerimanya, sehingga mampu membunuh atau menetralkan virus corona penyebab Covid-19.

Pertimbangan izin vaksin sinovac diberikan setelah hasil imunogenisitas, keamanan, dan efikasi Sinovac telah sesuai standar yang ditetapkan oleh Badan Kesehatan Dunia (WHO).

Vaksin Covid-19 Sinovac dari China tergolong vaksin virus mati atau inactivated vaccine yang merupakan vaksin versi lemah atau inaktivasi virus untuk memancing respon imun. Dosis dari vaksin tersebut dilakukan secara bertahap untuk mendapatkan imunitas berkelanjutan terhadap penyakit. Vaksin berjenis Inactivated sebelumnya sudah diterapkan pada Hepatitis A, Polio, Flu, dan Rabies.

Uji klinis tahap III dilakukan di Bandung dengan melibatkan 1.620 orang pada rentan usia 18 hingga 59 tahun. Kusnandi Rusmil selaku ketua Tim Riset Uji klinis Vaksin Covid-19 di Bandung, menuturkan dalam uji klinis fase III vaksin Sinovac adanya efek samping yang muncul.

“Ada beberapa efek samping yang timbul akibat reaksi penyuntikan berupa nyeri pada lokasi penyuntikan dengan intensitas ringan, dan menunjukkan reaksi pegal otot dengan mayoritas dengan intensitas ringan,” ungkap Kusnandi saat diskusi virtual, Rabu (30/12).

Selain di Bandung, uji klinis fase III juga dilakukan di Turki dan Brasil. Sempat dihentikan uji klinis fase III di Brasil akhirnya berlanjut. Lembaga Kesehatan Brasil, Anvisa juga akan membangun fasilitas untuk pembuatan 100 juta vaksin per tahun.

Comments